Kamis, 19 April 2012

slicker

The World's Most Advanced Nano Lubricating Technology , pelumas abad-antariksa Nano Ionic Bond yang membentuk lapisan pelindung baru pada metal yang bersifat anti-oksidasi & super licin!
PRIMO NIB (Nano Ionic Bond) LUBRICATING TECHNOLOGY Metal Treatment membentuk ikatan kovalen dan ionik yang kuat pada permukaan metal dan membentuk permukaan baru yang bersifat super licin, melindungi metal dari gesekan serta korosi & keausan micro pitting.
Permukaan baru ini juga memblokir oksigen sambil benar-benar meniadakan terbentuknya partikel dan mengurangi proses oksidasi. Dua katalis utama dalam proses inilah yang membuat interval penggantian oli dapat diperpanjang sampai sedikitnya 2 kali lipat tanpa kehilangan efisiensi pelumasan atau keausan komponen mesin.
Sifat super licin mencegah kontak langsung metal dengan metal sehingga mesin dapat tetap dioperasikan selama beberapa jam ketika minyak lumas habis terbuang dengan tidak sengaja.
PRIMO NIB (Nano Ionic Bond) Metal Treatment tidak korosif terhadap metal, direkomendasikan untuk ditambahkan pada minyak lumas yang digunakan untuk komponen mesin yang diperkeras tapi mudah terjadi pitting akibat aditif extreme pressure sulfur-phosphorus konvensional.
PRIMO NIB (Nano Ionic Bond) Metal Treatment membuang air dari permukaan metal dan melindungi lebih baik peralatan yang digunakan dalam kondisi basah. Juga meningkatkan kemampuan minyak lumas melawan efek merusak dari panas yang membuat minyak lumas teroksidasi.

Selasa, 17 April 2012

sosiologi bab 2

Pengendalian sosial
Dalam masyarakat, orang di kendalikan terutama dengan menyosialisasikan mereka dengan nilai dan norma sosial sehingga mereka menjalankan peran-peran sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat, melalui penciptaan kebiasaan dan rasa senang.
Tapi tetap saja terjadi penyimpangan.
Sosialisasi saja tidak cukup untuk terciptanya keteraturan sosial. Norma-norma sosial itu tidak cukup kuat mempunyai selfenforcing di dalam menjamin keteraturan sosial

1.     Pengertian pengendalian sosial
Dapat di simpulkan bahwa pengendalian sosial adalah cara terbaik terrencana atau tidak terencana yang mengajarkan, membujuk, atau memaksa individu untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan, nilai dan norma yang berlaku.

2.     Tujuan pengendalian sosial
Tujuan dasar : mencegah terjadinya pengimpangan terhadap nilai dan norma, memulihkan keadaan akibat terjadinya penyimpangan.
Tujuan dari masyarakat:
a.       Eksploitasi= untuk mengendalikan situasi sehingga tidak mengancam kepentingan-kepentingan yang telah tertanam kuat.
b.      Regulatif= dilakukan agar dicapai keteraturan sosial
c.       Konstruktif= untuk mengarahkan perubahan dan kebudayaan ke arah yang di harapkan oleh sebagian besar warga masyarakat.

3.     Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial
a.       Lembaga kepolisian
Lembaga formal masyarakat yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban. Terutama menangani penyimpangan terhaap aturan-aturan atau hukum tertulis, dengan cara menangkap, memeriksa/menyidik dan selanjutnya mengajukan pelaku penyimpangan ke pengadilan.
b.      Lembaga kejaksaan
Bertugas melakukan penyelidikan pemeriksaan yang telah dilimpahkan polisi. berwenang untuk menindak lanjuti kasus dari kepolisian.
c.       Lembaga pengadilan
Bertugas untuk mengadili dan memutuskan pelaku penyimpangan. Pemberian hukuman dan sanksi berat ringan nya tergantung dari kesalahan yang telah di perbuat.
d.      Lembaga adat
Merupakan salah satu pengendalian sosial nonformal yang bertugas mengawasi masyarakatnya dalam bertingkah laku.
Norma-norma yang bersumber pada ajaran-ajaran agama atau keyakinan masyarakat.
Adat istiadat juga melengkapi aturan-aturan hukum tertulis.
e.       Tokoh-tokoh masyarakat
Seseorang yang di kagumi, disegani, atau di hormati karena pengaruh atau wibawahnya.
Berperan dalam memberikan nasihat, dan mendamaikan perselisihan.
4.     Sifat-sifat pengendalian sosial
a.       Pengendalian sosial preventif = di lakukan sebelum terjadi pelanggaran, dengan tuuan untuk mencegah.
b.      Pengendalian sosial represif = di lakukan setelah terjadi penyimpangan.
c.       Pengendalian sosial gabungan = gabungan antara pengendalian sosial preventif dan represif. Misalnya penggabungan antara peraturan dengan sanksi.
5.     Cara-cara pengendalian sosial
a.       Cemoohan= penendalian sosial yang di lakukan dengan cara mencemoohatau mengejek orang.
b.      Teguran= tindakan pengendalian sosial dengan cara memberikan teguran atau peringatan.
c.       Pendidikan= pengendalian sosial yang di lakukan secar efektif, maka bentuk-bentuk pengenddalian yang lain hanya sebagai pendukung.
d.      Agama= pengendalian sosial yang di lakukan dengan mempelajari agama dan melaksanakannya secara sungguh-sungguh sehngga ketika berbuat dosa segera bertobat.
e.       Gosip atau desas- desus= dilakukan dengan menyebarkan berita secara cepat dan tidak berdasarkan kenyataan. Akibatnya orang yang melakukan penyimpangan akan merasa malu dan bersalah.
f.       Ostrasisme= pengendalian sosial yang di lakukan dengan cara mengucilkan orang yang melakukan penyimpangan.
g.       Fraundulens= pengendalian sosial dengan cara melakukan bantuan terhadap pihak lain yang di anggap mampu mengatasi masalah.
h.      Intimidasi= pengendalian sosial dengan cara melakukan penehanan, pemaksaan, mengancam, dan menakut-nakuti
i.        Hukum= pengendalian sosial yang berupa hukuman bagi pihak atau orang yang melakukan penyimpangan sosial.

6.     Efektifitas pengendalian sosial
Menurut soetandyo wignyosubroto, ada beberapa faktor dalam masyarakat yang ikut menentukan efektif atau tidaknya pengendalian sosial, yaitu:
a.       Menarik tidaknya kelompok ; semakin menarik suatu kelompok semakin efektif dakam melakukan pengendalian sosial.
b.      Otonomi tidaknya kelompok ; semakin otonom maka semakin efektif
c.       Beragam tidaknya norma dalam kelompok ; semakin banyak norma semakin bessar potensi.
d.      Terjadi anomie atau tidaknya kelompok. Semakin anomie pengendalian sosial smakin tidak efektif.
e.       Besar  kecilnya kelompok ; semakin besar kelompok, pengendalian semakin tidak efektif.
f.       Toleransi petugas pengendalian sosial terhadap pelanggaran/penympangan yang terjadi. Toleransi petugas penngendalian sosial sering di pengaruhi oleh ekstrim tidaknya pelanggaran/penyimpangan, keadaan status, atau reputasi pelanggar asasi tidaknya nilai yang terkandung dalam norma yang di langgar.

Sabtu, 14 April 2012

sosialisasi bab 1

Pengertian sosialisasi
 Sosialisasi adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yg di jalankan.
Sosialisasi ini berangkai dengan kepribadian dan kebudayaan.
Proses sosialisasi membawa seseorang dari keadaan belum terisolir menjadi manusia beradab.

Dapat di simpulkan bahwa :
Ø  Sosialisasi: proses belajar individu mengenai nilai dan norma yg berlaku dalam masyarakat dimana individu tersebut tinggal.
Ø  Fungsi sosialisasi: agar dapat hidup secara wajar dalam masyarakat , sehingga tidak aneh dan di terima oleh warga masyarakat lain. Dan agar dapat berpartisipasi aktif sebagai anggota masyarakat.
Ø  Tujuan sosialisasi : dapat memperoleh nilai norma pengetahuan dan keterampilan yang di pergunakan guna melaksanakan peranan yg di jalankan.

Macam-macam sosialisasi

1.      Berdasarkan berlangsungnya
a.       Sosialisasi yg disengaja/disadari
Dilakukan secara sadar/disengaja, missalnya melalui pendidikan, pengajaran, indotrinasi, dakwah, nasihat, dsb…
b.      Sosialisasi yang tidak disadari/tidak di sengaja
Yaitu perilaku/sikap sehari-hari tg di lihat/di contoh oleh pihak lain.

2.      Menurut status pihak yang terlibat
a.        Sosialisasi equaliter
Yg berlangsung di antara orang-orang yg kedudukan atau statusnya relative sama, misalnya di antara teman, sesame murid, dll.
b.        Sosialisasi otoriter
Sosialisasi yg berlangsung di antara pihak-pihak yang status/kedudukannya berbeda misalnya orangtua dgn anak.

3.      Menurut tahapnya
a.        Sosialisasi primer
Sosialisasi yang pertama kali di alami oleh seorang individu, terjadi dalam lingkungan keluarga, dan tidak mempunyai hak untuk memilih agen sosialisasinya.
b.        Sosialisasi sekunder
Sosialisasi yang terjadi di luar lingkungan keluarga







4.      Berdasarkan caranya
a.        Sosialisasi represif
Sosialisasi dalam keluarga dimana orang tua tidak memperhatikan pendapat dan partisipasi dari anak.

b.        Sosialisasi partisipatoris
Sosialisasi dalam keluarga dimana par4tisipasi anak di perhatikan secara penuh dan orang tua mempertimbangkan kemauan anak.



Tahap-tahap sosialisasi
1.      Masa anak-anak
Sering di sebut juga masa persiapan. Masa anak-anak di bagi menjadi dua.
a.        Prepatory stage
Pada masa ini, seorang individu mula mempersiapkan dirinya untuk belajar sesuatu, seperti belajar makan, berbicara, mengenal lingkungan keluarga dan sebagainya.
b.        Play stage
Anak-anak mulai mengenal lingkungan lebih luas. Dan mulai mengenal teknik bermain peran/meniru.
2.      Masa remaja(game stage)
Seorng individu sudah mulai mengidentifikasikan diri dengan idolanya, masih dalam tahap pencarian jati dirisehingga sangat rentan terhadap pengaruh dari luar.
3.      Masa dewasa
Dikenal juga sebagai tahap penerimaan norma. pada masa ini seorang individu sudah mulai mantap dimana seorng individu mulai menyesuaikan diri dengan pola sosisial budaya masyarakat.

Agen-agen sosialisasi atau media sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yg melaksanakan sosialisasi.
Ada empat agen sosialisasi yaitu: keluarga, kelompok pertemanan, lembaga pendidikan, dan media massa.

1.      Keluarga
Media awal dari seorang individu mengenal lingkungan nya adalah keluarga.
Terdapat dua macam sosialisasi dalam keluarga yaitu sosialisasi partisipatif dan represif.
Nilai dan norma yang di sosialisasikan di keluarga adalah nilai norma dasar yang diperlukan oleh seseorang agar nanti dapat berinteraksi dengan orang-orang dalam masyaqrakat yang lebih luas.
Pihak yg terlibat:
a.        Pada keluarga inti, misalnya ayah ibu dan saudara kandung.
b.        Pada keluarga luas, misalnya nenek, kakek, paman, dan bibi.
c.        Pada masyarakat menengah perkotaan, misalnya baby sister, pembantu rumah tangga, dll.

2.      Kelompok pertemanan
Pada tahap ini anak mempelajari di antaranya nilai keadilan kesetiakawanan, dan persahabatan.
Mulai mengenal mengembangkan keterampilan, mengungkapkan rasa kecewa, khawatir dsb.
Di sini lah seseorang belajar mengenai berbagai keterampilan social, seperti kerja sama, mengelola konflik, jiwa social, kerelaan untuk berkorban, solidaritas, kemampuan untuk mengalah, dan keadilan.
Peran positif kelompok sepermainan yaitu:
a.        Menumbuhkan rasa aman dan rasa di anggap penting.
b.        Menumbuhkan dengan baik kemandirian dan kedewasaantempat yang baik untuk mencurahkanberbagai perasaan, misalnya kecewa, takut, khawatir, suka ria, dan sebagainya termasuk cinta.
c.        Merupakan tempat yg baikuntuk mengembangkan keterampilan social, misalnya kemempuan memimpin, menyamakan persepsi, mengelola konflik, dsb.

Selain pern positif tentu saja ada peran kelompok persahabatan yang negative,seperti perilaku-perilaku yang berkembang di lingkungan delinquen(menyimpang).
Contohnya adalah geng.

3.      Lingkungan sekolah
Siswa di sekolah mempelajari hal-hal yang mungkin belum di pelajari di lingkungan keluarga atau di lingkungan bermain.
Lingkungan sekolah terutama untuk sosialisasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilai-nilai kebudaaan yang di pandang luhur dan akan di pertahankan kelangsungan nyadalam masyarakat melalui pewarisan(tranformasi) budaya dari generasi ke generasi berikutnya.
Fungsi sekolah sebagai media sosialisasi antara lain:
a.       Menenali dan mengembangkan karakteristik diri (bakat, minat dan kemampuan)melestarikan kebudayaan.
b.      Merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan pengembangan kemempuan berpikir kritis, analis, rasional, da objectif.
c.       Memperkaya kehidupan dengan cakrawala intelektual serta cita rasa keindahan.
d.      Mengembangkan kemampuan menyesuaikan diri dan kemandirian.
e.      Membelajarkan tentang hidup sehat, prestasi, universalisme, spesifikasi, dan sebagainya.

4.      Lingkungan kerja
Di lingkungan kerja mereka juga belajar dalam menghormati atasan dan bawahan.
Di lingkungan kerja seseorang juga belajar tentang nilai, norma, dan cara hidup.

5.      Media massa
Para ilmuan sosial telah banyak membuktikan bahwa pesan-pesan yang di sampaikan melalui media massa memberikan pengaruh bagi pekembangan diri seseorang, terutama anak-anak.
Diakui oleh banyak pihak bahwa media sosialisasi telah berpern dalam proses homogenisasi, bahwa akhirnya masyarakat dari berbagai belahan dunia memiliki struktur dan kecenderungan cara hidup yang sama.

Kepribadian
Sosialisasi dan kepribadian adalah proses sosial yang saling berkaitan dan tidak dapat di pisahkan. Kepribadian sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi yang di lalui seseorang.
1.      Pengertian kepribadian
Kepribadian adalah organisasidari faktor biologis, sosiologis dan psikologis yang mendasari perilaku individu.kepribadian individu meliputi kebiasaan sikap. Sifat yang khas yang di miliki seseorang yang berkembang apabila berhubungan dengan orang lain.
Unsur-unsur kepribadian:


a.       Pengetahuan
Pengetahuan merupakan unsur yang mengisi akal pkiran seseorang yang sadar, merupakan hasil dari pengalaman indranya atau reseptor organismanya.
b.      Perasaan
Alam kesdaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan, yaitu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya di nilai sebagai positif ataupun negatif.
c.       Dorongan naluri(drive)
Naluri merupakan perasaan dalam diri individu yang bukan di timbulkan oleh pengaruh pengetahuan nya, melainkan sudah terkandung dalam organisme atau gennya.
2.      faktor pembentuk kepribadian
a.       faktor pembawaan/warisan biologis(keturunan atau warisan)