Identitas buku:
Judul buku : The Luckiest Man
Penulis : Elda Simar
Penyunting : Bene’
perancang
sampul : Iyal
Penata
letak : Dauz
ilustrasi sampul : Adhi nugroho
ilustrasi sampul : Adhi nugroho
Penerbit : Puspa Swara
Jumlah
halaman : 194 halaman
Tahun
terbit : 2006
Cetakan
: pertama
ISBN : 979 24 4863 2
Tentang penulis:
Elda
Simar dilahirkan pada tahun 1980. Cewek berbintang capricorn ini merupakan
lulusan fakultas seni rupa dan desain. Tapi di tengah kebingungan akan jalan
hidup, hobi bacanya mendorong Elda untuk menulis. The Luckiest Man adalah buku
pertama desainer grafis pelahap buku-buku tolkiens ini.
Tema:
Manusia paling
beruntung di dunia.
Latar
:
Di stasiun kereta : “Dan
kereta pun menjauh pergi.”
Di penjara : ”Aku
sedang berada di penjara.”
Di cirebon: ”Mr.Roy
akhirnya tiba di Cirebon setelah perjalanan selama tiga setengah jam lebih.”
Di rumah sakit: ”Tanpa
mengetahui sahabatku jua tertimpa musibah, aku sudah tersadar dan terbaring di
rumah sakit.”
Di cirebon: “ini
cirebon kan?”
Di kapal: ”kapal ini
cukup besar, seperti untuk angkutan barang,kata Roy.”
Di amerika: ”kami
akhirnya tiba di perairan amerika, setelah lolos dari baerbagai macam
pemeriksaan.”
Penthouse: “ternyata, ini sebuah penthouse, seperti kamar
yang di tempati Richard Gere di film pretty woman.”
Salon: ”budi
melambatkan mobilnya dan berhenti di sebuah salon.”
Gedung tua: ”budi
menunjuk pada sebuah gedung tua.”
Di bar: “lima belas
menit berikutnya, kami berada di sebuah bar sambil minum bir dan bercanda.”
Di ruang bawah tanah: ”ruang
bawah tanah ini luas sekali.”
Di kantor ketua: ”aku
membuka pintu kantor ketua dengan keras.”
Di kafe: ”di sebuah
kafe yang tak jauh dari menara marles corp.”
Di hotel: ”kami tiba di
hotel.”
Di patung liberty: ”kami
menuju lokasi patung libberty dengan helikopter organisasi.”
Di inggris: ”aku berada
di inggris, tepatnya di istana kerajaan, sedang berlutut dengan satu kaki.”
Alur:
Maju
Dimulai dengan
memperkenalkan tokoh
“aku adalah seorang
mahasiswa jurusan manajemen, usiaku 24 tahun.”(hal.1)
Tokoh
Protagonis:
Phillip, Roy
Antagonis:
Nelson, Paul
Tritagonis:
Patrice
Nenek
Ayah Roy
Panji Wibowo
Nenek
Ayah Roy
Panji Wibowo
Penokohan
Phillip
Sederhana, kurus,
pecandu rokok
“secara fisik, aku
seorang pemuda yang biasa saja. Rambut gondrong dengan tubuh kurus kering.”
Roy
Tampan, setia kawan
“dia selalu membanggakan
hidungnya sebagai hidung andy lau.”
Patrice
Cantik dan menawan
“gadis peranakan bule.
Rembutnya sedikit terang, cokelat kemerahan.”
Nenek
Sudah tua
“Aku melihat seorang
nenek yang bungkuk.”
Ayah
Roy
Berwatak keras dan
pelit
“seperti kakeknya, ayah
roy adalah orang yang amat keras dan pelit.”
Panji
Wibowo(ketua)
Berwibawa dan bijaksana
“dari kakek yang
terbaring tak berdaya, tiba-tiba berubah menjadi begitu berwibawa.”
Nelson
(pimpinan utama)
Gendut, bodoh, pemalas
“orang itu bertubuh
besar dan gendut, dengan pipi yang sudah merosot ke bawah, dagu yang
berlipat-lipat, dan perut buncit.”
Paul
Keren, elegan, pintar,
tinggi
“Pria itu berpenampilan
elegan, berkacamata, berbahu bidang, dan lumayan tinggi.”
Andrea
Gemuk
“wajahnya yang gemuk
berkeringat banyak.”
Anya
Cantik, cerdas
”wanita ini memiliki
kulit seputih salju dengan rambut sehitam arang.”
“wajahnya begitu
eksotis dengan dagu runcing.“
Budi
Selalu waspada
“budi adalah orang yang selalu waspada.
“budi adalah orang yang selalu waspada.
Sudut
pandang: orang
pertama
“aku adalah seorang mahasiswa jurusan manajemen, usiaku 24 tahun.”
Amanat:
“ jangan berputus asa dengan keadaan kita sekarang, karena tuhan telah menyiapkan rencana di masa depan yang tak kita sangka-sangka.”
“ jangan berputus asa dengan keadaan kita sekarang, karena tuhan telah menyiapkan rencana di masa depan yang tak kita sangka-sangka.”
“Pengalaman adalah guru
yang terbaik.”