Minggu, 17 November 2013

analisis novel


Identitas buku:
Judul buku                    : The Luckiest Man
Penulis                          : Elda Simar
Penyunting                    : Bene’
perancang sampul         : Iyal
Penata letak                  : Dauz
ilustrasi sampul  : Adhi nugroho
Penerbit                        : Puspa Swara
Jumlah halaman : 194 halaman
Tahun terbit                  : 2006
Cetakan                       : pertama
ISBN                           : 979 24 4863 2

Tentang penulis:
Elda Simar dilahirkan pada tahun 1980. Cewek berbintang capricorn ini merupakan lulusan fakultas seni rupa dan desain. Tapi di tengah kebingungan akan jalan hidup, hobi bacanya mendorong Elda untuk menulis. The Luckiest Man adalah buku pertama desainer grafis pelahap buku-buku tolkiens ini.



Tema:
Manusia paling beruntung di dunia.

Latar :
Di stasiun kereta : “Dan kereta pun menjauh pergi.”
Di penjara : ”Aku sedang berada di penjara.”
Di cirebon: ”Mr.Roy akhirnya tiba di Cirebon setelah perjalanan selama tiga setengah jam lebih.”
Di rumah sakit: ”Tanpa mengetahui sahabatku jua tertimpa musibah, aku sudah tersadar dan terbaring di rumah sakit.”
Di cirebon: “ini cirebon kan?”
Di kapal: ”kapal ini cukup besar, seperti untuk angkutan barang,kata Roy.”
Di amerika: ”kami akhirnya tiba di perairan amerika, setelah lolos dari baerbagai macam pemeriksaan.”
Penthouse:  “ternyata, ini sebuah penthouse, seperti kamar yang di tempati Richard Gere di film pretty woman.”
Salon: ”budi melambatkan mobilnya dan berhenti di sebuah salon.”
Gedung tua: ”budi menunjuk pada sebuah gedung tua.”
Di bar: “lima belas menit berikutnya, kami berada di sebuah bar sambil minum bir dan bercanda.”
Di ruang bawah tanah: ”ruang bawah tanah ini luas sekali.”
Di kantor ketua: ”aku membuka pintu kantor ketua dengan keras.”
Di kafe: ”di sebuah kafe yang tak jauh dari menara marles corp.”
Di hotel: ”kami tiba di hotel.”
Di patung liberty: ”kami menuju lokasi patung libberty dengan helikopter organisasi.”
Di inggris: ”aku berada di inggris, tepatnya di istana kerajaan, sedang berlutut dengan satu kaki.”


Alur:
Maju
Dimulai dengan memperkenalkan tokoh
“aku adalah seorang mahasiswa jurusan manajemen, usiaku 24 tahun.”(hal.1)



Tokoh
Protagonis:
Phillip, Roy
Antagonis:
Nelson, Paul
Tritagonis:
Patrice
Nenek
Ayah Roy
Panji Wibowo
Nenek
Ayah Roy
Panji Wibowo





Penokohan
Phillip
Sederhana, kurus, pecandu rokok
“secara fisik, aku seorang pemuda yang biasa saja. Rambut gondrong dengan tubuh kurus kering.”
Roy
Tampan, setia kawan
“dia selalu membanggakan hidungnya sebagai hidung andy lau.”
Patrice
Cantik dan menawan
“gadis peranakan bule. Rembutnya sedikit terang, cokelat kemerahan.”
Nenek
Sudah tua
“Aku melihat seorang nenek yang bungkuk.”
Ayah Roy
Berwatak keras dan pelit
“seperti kakeknya, ayah roy adalah orang yang amat keras dan pelit.”
Panji Wibowo(ketua)
Berwibawa dan bijaksana
“dari kakek yang terbaring tak berdaya, tiba-tiba berubah menjadi begitu berwibawa.”
Nelson (pimpinan utama)
Gendut, bodoh, pemalas
“orang itu bertubuh besar dan gendut, dengan pipi yang sudah merosot ke bawah, dagu yang berlipat-lipat, dan perut buncit.”
Paul
Keren, elegan, pintar, tinggi
“Pria itu berpenampilan elegan, berkacamata, berbahu bidang, dan lumayan tinggi.”
Andrea
Gemuk
“wajahnya yang gemuk berkeringat banyak.”
Anya
Cantik, cerdas
”wanita ini memiliki kulit seputih salju dengan rambut sehitam arang.”
“wajahnya begitu eksotis dengan dagu runcing.“

Budi
Selalu waspada
“budi adalah orang yang selalu waspada.



Sudut pandang:  orang pertama
aku adalah seorang mahasiswa jurusan manajemen, usiaku 24 tahun.”

Amanat:
“ jangan berputus asa dengan keadaan kita sekarang, karena tuhan telah menyiapkan rencana di masa depan yang tak kita sangka-sangka.”
“Pengalaman adalah guru yang terbaik.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar